Berita Politik terkini dari dalam negeri & luar negeri
PDIP Tolak Jabatan Presiden Tiga Periode
PDIP Tolak Jabatan Presiden Tiga Periode

PDIP Tolak Jabatan Presiden Tiga Periode

PDIP Tolak Jabatan Presiden Tiga Periode – PDI-P (PDIP) menegaskan tidak menginginkan ketentuan, termasuk mengizinkan masa jabatan presiden tiga kali dan menolak memperpanjang masa jabatan kepala negara menjadi lebih dari 10 tahun. PDIP memasukkan prioritas calon presiden dan wakil presiden untuk dipromosikan pada 2024, tergantung pada hasil pertimbangan Ketua DPP PDIP Megawati Sukarnoputri nanti.

PDIP Tolak Jabatan Presiden Tiga Periode

Spd-uk – Sekretaris Eksekutif PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan usulan amandemen terbatas UUD 1945 hanya akan memprioritaskan Gambaran Umum Kebijakan Nasional (GBHN). Dia meyakinkan PDIP dan Presiden Joko Widodo bahwa dia tidak ingin menyelesaikan jabatannya sebagai kepala negara untuk sementara waktu atau mendudukinya selama tiga periode.

Baca Juga : DPR Dorong Polisi Dalami Temuan Komnas HAM soal Kebakaran Lapas

Politisi Yogyakarta menilai konstitusi negara mencakup semua landasan filosofis kehidupan berbangsa. Ia mengatur tata pemerintahan yang baik agar setiap aspek kehidupan dalam mengelola suatu negara selalu untuk kepentingan negara. Hast juga memahami bahwa Presiden Jokowi adalah pemimpin yang populer, bekerja sama, unggul dan visioner.

Sebaliknya, PDIP ingin memposisikan pembangunan di bawah Presiden Jokowi sebagai arah nasional. PDI-P mengesampingkan pembahasan capres-cawapres di internal partai dengan tujuan memberikan kontribusi kepada pemerintahan Presiden Jokowi di masa pandemi ini.

Baca Juga : Biden Batuk Terus-menerus, Gedung Putih Harap Publik Tak Khawatir

Pak Hast mengatakan PDI-P saat ini fokus pada kelahiran kembali dan aktivitas rakyat. Tapi sudah saatnya PDI-P memilih capres atau cawapres. Semua pengurus PDI-P pasti akan menyerahkannya kepada Megawati. Hast sangat meyakini bahwa presiden kelima Republik Indonesia itu akan memilih pemimpin nasional dengan mempertimbangkan, mendengarkan, dan mempertimbangkan berbagai aspek strategis masyarakat.

Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) memahami bahwa banyak lembaga penelitian telah mempublikasikan hasil penelitian tentang elektabilitas beberapa eksekutif Perjuagan PDI. Namun, Hust memastikan pihaknya tidak menggunakan selektivitas manusia sebagai alat ukur. Hast ingat pesan Megawati bahwa menjadi presiden itu mudah, tetapi menjadi pemimpin itu terlalu sulit. Karena tangannya bergantung pada kehidupan lebih dari 270 juta orang Indonesia.